Malam in saya mendapat sebuah pembelajaran yang terpenting dalam hidup ku.. Tentang bagaimana seorang menjadi dewasa dan mencapai tingkat pendewasaan yang mumpuni untuk mengarungi kehidupan.
Seyogyanya manusia ditakdirkan untuk hidup bersama dan menjadi penopang serta panutan bagi orang lain. Entah mengapa kodrat itu berikan tuhan kepada kita. Melalui berbagai kitab dan wakil-wakil nya yg diturunkan ke bumi.. Manusia mendapat pembelajaran mengeni makhluk sosial.. Dan dikemukakan kembali oleh aristoteles yaitu zoon politikon.
Saya malam ini di berikan parutan rohani dari salah seorang panutan saya. Malam ini penjabaran akan kesalahan saya dalam hidup ini. Menyadarkan saya akan pergulatan dosa yang di jabarkan oleh dante aligeri, yaitu sepuluh dosa terbesar. Seakan menjatuhkan saya dalam beribu rangkaian perangkap mematikan, yang melukai jiwa saya.. Melecehkan setiap dogma dan pragmatisme dalam kehidupan ini, yang telah saya bangun dengan bersusah payah selama kurun waktu yang lama, ketika saya memulai menyusun logika saya sendiri. Dogam-dogma itu seakan debu yang berukuran mikron, yang dengan mudah di hempaskan oleh setiap giga kata-katanya. Menyeret saya dalam kelimbungan logika. Setan terus bergelut dalam otak saya.. Berusaha menyeruak keluar membantai tiap kata yang di lontarkannya. Walhasil.. Nihil.. Ber-giga kata-kata tetap keukeuh menghantai butiran debu berukuran mikron di lensa faset otak saya. Entah ada apa, jujur.. Saya mengenal pribadinya sebagai orang yang benar-benar tulus membenci saya, pemikiran saya tentang dia ketika melancarkan kata-kata pamungkasnya adalah.. "Ya.. Dia memulai lagi, meruntuhkan angan mu dan mimpi - mimpimu.. Persis seperti kolega-koleganya yang lain." tapi dalam sekejap pemikiran itu berubah, entah ada apa, logika saya dan logika dia malam ini sejalan, tanpa sadar dan enggan menyetujui bahwa logika saya menerima pengandaian dan alegori-alegori yang dia tawarkan kepada saya. Dan mulailah pencacahan hidup ini.. Kehidupan saya..
Malam ini dengan berat saya mengakui, memang ada yang salah dengan kehidupan saya di masa lalu. Sungguh.. Harus saya akui.. Saya merinding menulis postingan ini, entah karena merasa bersalah atau karena merasa melakukan kesalah dengan mengakui kesalahan, keduanya tidak jauh berbeda..hahahaha.. Sama-sama berujung pada buah kesalahan. Saya sadar pokok pertama masalah saya adalah harga diri. Apa yang membuat saya begitun angkuh?? Atau menurut dia, tinggi hati?heheh.. Saya hanya terkekeh mendengar julukan dia untuk diri saya. Sang tinggi hati.. Itulah kata pamungkas yang dia keluarkan malam ini, begitu telak, bagai menelan pil pahit, pahit tapi menyembuhkan. Sakit menempeleng hati saya. Dengan enggan saya mengakui, ya saya memang seperti itu, dan saya baru menyadarinya, sungguh bodoh. Saya mulai mencari akar yang membuat diri saya begitu angkuh, pribadi kecil saya yang angkuh?? Apa penyebabnya??. Saya mulai menemukan secercah cahaya.. Tapi logika saya berkelut.. Apakah ini secercah cahaya ataukah hanya sebuah pembenaran yang telah terbiasa berlalu lalang dalam hidup saya?? Saya menyadari betapa mengerikannya hidup saya di masa lalu. Begitu banyak pembenaran.. Dan begitu banyak penyangkalan yang berujung pada kehancuran diriku.
Ya tuhan, bahkan malam ini saya masih tidak berani menyebut nama mu di dalam tulisanku. Seberapa salahkah diri ini?? Saya akan mulai dari awal pembahasan mengenai pribadi kecil saya -sebut saja jay- jay kecil dalam kiprah kehidupannya, hidup dalam penghargaan begitu tinggi dan penghormatan yang sangat sangat terjaga dalam tradisi keluarga. Lantas apakah itu hal yang paling dasar yang membawa jay kecil menuju keangkuhan tertinggi ini?? Apakah yang membawa saya dalam titik tinggi yang serendah ini?? Syntax eror bergema dalam otak saya.. Pertanda kenihilan dalam proses penelusuran kembali pada masa jay kecil. Bukan tidk ada hal yang bisa di jadikan alasan dan dijadikan kambing hitam, ada.. Dan begitu banyak sesuatu yang bisa saya jadikan itu, akan tetapi saya takut, takut kembali menemukan pembenaran yang membuat diri saya terperosok semakin dalam. Itu pembenaran atau lebih umum di sebut penyangkalan, hal yang telah di warisi oleh kita sejak zaman prasejarah. Membutakan manusia dari kedamaian, menyesatkan manusia dari kebenaran dan menyenangkan manusia dalam kegelapa. Zaman jahiliah.. Renaissance... The dark age... Begitu banyak sebutan bagi manusia untuk pedang bermata dua ini, dan para pendusta menyebutnya penyangkalan. Ya saya mengakui begitu banyak penyangkalan yanh terjadi dalam hidup saya. Sungguh banyak, apa yang membuat saya seperti in?? Bunuh saya malam ini dan jadikan ini penyesalan abadi, karena penyangkalan akan hilang ketika individu musnah.
Entah ada apa dengan diri saya, saya menyadari ada obsesi aneh yang hidup di dalam otak saya. Seakan-akan obsesi ini seperti kanker yang terus menggerogoti bagian nalar saya, merusak logika saya, mengacaukannya dan nyaris membuat saya gila. Obsesi ini semacam keinginan untuk menguasai lebih apa yang telah orang lain kuasai. Saya belum menemukan nama yang pas untuk obsesi ini. Anomali yang terjadi dalam otak saya, saya sangat bingung.. Disorientation point?? Mungkin. Entah apakah menurut kalian ini aneh?? Saya menyerahkan penilaian ini kepada kalian? Apakah kalian merasa ini wajar atau tidak? Silahkan membaca deskripsi saya menganai obsesi abnormal di bawah ini :
Saya mempunyai kecenderungan untuk menguasai apa yang orang lain telah kuasai? Menjiplak? Mungkin, tapi saya mengembangkan itu lebih dari pada orang punya?? Ataukah mungkin saya hanya setengah-setengah dalam semuanya. Saya seperti org gila, berusaha memahami semuanya dan lebih parahnya saya mendorong dan mengsugesti diri saya bahwa saya bisa tanpa sadar dan tidak memperdulikan kodrat saya sebagai manusia yang mempunyai keterbatasan...........................